Archive for August, 2005

MENJADI MUSLIMAH DIAM

Wednesday, August 31st, 2005

Diam adalah emas…

Sahabat, sering kita dengar ungkapan tersebut. Namun diam seperti
apakah yang akan menjadi emas? Tentu bukan diam karena tidak tahu, diam
karena lemah, diam karena pasrah, atau diam karena menyerah kalah.

Menjadi muslimah diam? Diam apakah yang akan menjadikan seorang
muslimah menjadi pribadi unggulan yang dijadikan sebagai figur dambaan
umat?
1. Dewasa

Seorang muslimah dituntut untuk dewasa. Bukan hanya dewasa dari segi
fisik atau usia, tetapi dituntut untuk bisa dewasa atau matang dalam
sikap dan perbuatan. Seorang ibu dituntut untuk bersikap dewasa
dihadapan anak-anak dan keluarganya. Jika seorang muslimah tidak bisa
bersikap dewasa, maka ia akan tidak sabar dengan pertanyaan-pertanyaan
anak-anaknya, juga dia tidak akan sabar dengan
permasalahan-permasalahan yang dihadapinya.
Memang, setiap individu memiliki sisi kekanakan dalam dirinya. Tak
masalah, jika usia seseorang masih terbilang muda, atau remaja, tapi
pikirannya dewasa, sebaliknya, tak lucu jika seseorang yang sudah
dewasa dari segi umur, namun sifatnya masih sangat kekanak-kanakkan.
Seorang muslimah pun dituntut selalu berpikiran jernih di setiap
kondisi. Semua itu bisa diraih bila muslimah bersikap dewasa.
2. Inovatif

Seorang muslimah dituntut untuk inovatif, selalu mempunyai gagasan dan
ide-ide baru hingga segala sesuatu tidak terkesan monoton dan
membosankan. Contoh, jika seorang ibu rumah tangga terus-terusan
memasak masakan yang sama, tanpa ada inovasi-inovasi, tentu akan
membuat anggota keluarganya bosan. Atau tatanan kamar yang sama selama
bertahun-tahun, tentu akan membuat kita bosan.
Coba, jika kepala kita sedang penuh masalah, lalu kita rubah interior
kamar kita, buang atau simpan barang-barang yang sudah tidak kita
perlukan. Insya Allah, suasana baru akan membantu menyegarkan pikiran
kita. Atau juga, jika kita memiliki beberapa pakaian lama yang masih
bagus, kita bisa memperbaharuinya dengan menambah atau mevariasikannya
dengan baju-baju lain atau dengan beberapa aksesoris, sehingga terkesan
baru. Akan banyak hal-hal baru yang terciptakan yang akan membuat
perubahan dalam hidup kita jika selalu berfikiran inovatif.
3. Alami

Bersikaplah wajar, alami, tidak dibuat buat. Berperilaku wajar dan
alami tidak dibuat-buat. Berdandan wajar, alami tidak terlalu menor.
Karena kadang segala sesuatu yang berlebihan malah membuat sesuatu jadi
tidak enak dipandang. Segala sesuatu yang alami tak akan pernah lekang
ditelan jaman. Biarkan segala sesuatu berjalan apa adanya, sesuai
kehendak Allah.

4. Menyejukkan
Seorang muslimah haruslah jadi penyejuk bagi suami juga keluarganya.
Seperti yang dilakukan Bunda Khadijah saat Rasulullah SAW ketika beliau
mendapat wahyu pertama. Siti Khadijah menenangkan beliau. Siti Khadijah
juga yang setia mendampingi Rasulullah SAW dalam setiap langkahnya.
Seorang istri haruslah bisa jadi penyejuk dalam setiap langkah
suaminya, penerang dalam gelapnya.
Seorang muslimah harus bisa jadi penyejuk di tengah lingkungannya,
jangan sampai jadi pemanas suasana. Banyak wanita yang menghabiskan
waktunya untuk bergosip, membuat suasana menjadi panas. Seorang istri
harus dengan sabar mendampingi suaminya, karena banyak rumah tangga
yang suasananya menjadi panas, hanya karena si istri menuntut terlalu
banyak dari suaminya. Sudah banyak diriwayatkan, bahwa sebagian besar
pengisi neraka adalah wanita. Na’udzubillahi min dzalik.
Seorang ibu juga harus selalu jadi penyejuk bagi anak-anaknya, menjadi
pendengar yang setia dari setiap keluhan yang diceritakan anak-anaknya,
dengan memberi thausiyah-thausiyah yang menyejukkan kalbu. Subhanallah,
alangkah indahnya jika seorang muslimah bisa menjadi penyejuk pandangan
setiap insan, terutama keluarganya. Dimana ia menjadi tempat yang
dicari setiap orang untuk berteduh dari lelahnya, yang akan selalu siap
menyambut mereka dengan senyuman yang tulus dan kata-katanya bagaikan
embun di tengah gersang.

Ukhti muslimah, Saat ini kita terlalu lelah dengan berbagai kondisi
yang sering tidak menentu. Maka jadilah antunna sebagai figur dambaan
umat, yang dengan DIAM, antunna menjadi muslimah yang selalu dirindukan
setiap orang. Wallahu’alam bishshowab.

*yang tersisa dari sisa asa,
Rabb…betapa hambaMU ingin DIAM…:-(

HARI WARNA WARNI

Wednesday, August 31st, 2005

(Episode Pagi)

Aneh rasanya, berada diantara orang-orang yang pernah jadi bagian dari langkah-langkah keseharian. musim ta’aruf, eh ospek deng. jadi inget masa-masa baheula. duh, g terasa dah empat tahun berlalu. dah tua euy. tapi target kuliah….baru dua tahun lagi:-(I am sorry me Mom, i just wanna be like water…alias mengalir saja seperti air.

(Episode Siang)

Lagi-lagi seperti dulu. gema takbir, orasi, yel, tissue penutup muka, poster, selebaran pernyataan sikap, AKSI euy! bin demo. dah lama banget gak ikutan lagi, jangankan yang sukup gede bin nasional kayak aksi2 ke DPRD ttg BBM, pilkada, pemurtadan dll, aksi keliling kampus aja dah gak pernah lagi. bukan apa-apa, afwan body, fisik ane gak setangguh dulu lagi:( but its cool!semoga saja gelora semangat yg tadi bergema, bisa mengalir lagi, ALLHUAKBAR!!!(Bro, Sist, you know, that actually i’m still miss u all, and all our action, please, don’t let me alone anymore!)

(Episode Sore)

Weks….jadi manajer tuh kayaknya capek ya? Kebayang deh, klo Bos Besar lagi nelpon nego sana sini, Bos Kecil sibuk nyiapin ini itu wara wiri kesana sini. baru ngatur satu acara aja aQ ma Nai dah pontang panting kebingungan, belom pengalaman sih. but at least, rasanya lumayan lega pas dah ngatur rundown+siapin segala hal untuk acara besok. klo gini sih, kayaknya mikir2 tawaran dari Bos kecill untuk jadi humasnya di bandung, hehehe.

(Episode Malam)

Keluar dari kamar, damai banget rasanya berada di tengah padang. ada bintang, ada angin, ada  nyanyian serangga, ada langit yang cerah. andaikan boleh, mau tuh tiap dinihari keluar, dan bersujud disana,Subhanallah….Maha Suci Allah yang memberikan begitu banyak keindahan.
jadi inget masa Mapak dulu. tengah malam jurit malam di KiaraPayung, berakhir di tengah padang di bawah bulan purnama yang keperakan, langsung di’banjur’thausiyah sama ‘Ayah Suri:D(klo ibu suri kan akhwat), klo bikin muhasabah di lapang kampus, keren juga tuh…
Dan ketika harus berbeda…
Allah…
hambaMu ini memang tidak lebih baik daripadanya. tapi jika akhirnya memutuskan untuk berbeda???sama sekali tidak pernah terbayangkan Rabb. entah apa yang jadi pertimbangan.
Allah…
rasa sakit karena pernah di-cap ‘lepas’ oleh sahabat-sahabat hamba, itu masih terasa. maka hamba berusaha membuktikan, bahwa hamba masih ada bersama mereka. tapi ini ya Rabb…hamba tahu, dia sangat labil.apa yang akan dia lakukan jika nanti satu persatu (semoga tidak)akan menjauhinya. dengan siapa dia akan berbagi? padahal kami sangat menyayanginya setulus hati.
Allah…
Engkaulah Maha Pemilik Hidayah
Engkau pula yang membolak-balikkan hati
Engkau pula yang menyatukan hati-hati kami
Maka Rabb…
hanya kepadaMulah, segala munajat suci,
Amiiin…

KADO PERNIKAHAN

Monday, August 29th, 2005
Kado Pernikahan   

Ketika kita bertemu orang yang tepat untuk dicintai,
Ketika kita berada di tempat pada saat yang tepat,
Itulah kesempatan

Ketika engkau bertemu dengan seseorang yang membuatmu tertarik,
Itu bukan pilihan itu kesempatan.

Bertemu dalam suatu peristiwa bukanlah pilihan…
Itupun adalah kesempatan

Bila engkau memutuskan untuk mencintai orang tersebut,
Bahkan dengan segala kekurangannya,
Itu bukan kesempatan, itu adalah pilihan

Ketika engkau memilih bersama dengan
Seseorang walaupun apapun yang terjadi
Itu adalah pilihan

Bahkan ketika kau menyadari
Bahwa masih banyak orang lain
Yang lebih menarik, pandai, dan kaya
Daripada pasanganmu dan
Tetap engkau memilih untuk mencintainya,
Itulah pilihan

Perasaan cinta, simpatik, tertarik
Datang bagai kesempatan pada kita…

Tetapi cinta sejati yang abadi adalah pilihan.
Pilihan yang kita lakukan.

Berbicara tentang pasangan jiwa,
Ada suatu kutipan dari film yang
Mungkin sangat tepat :

Nasib membawa kita bersama.
Tetapi tetap bergantung pada kita
bagaimana membuat semuanya berhasil

*post by akh Iqbal_Ir
kado pernikahan M. Jayadi Amin & Sistha Lestari,
Jakarta, 27 August’05