DADAHA, BERTAHUN KEMUDIAN
jejak itu masih meninggalkan senyap
; yang gersang seperti bertahun lalu:
saat kulabuhkan semua gundah,
di tempat ini pada pencarian tak berujung
berselimut semu terselubung
hingar itu masih menyisakan sepi
;di tengah bising seperti bertahun lalu:
saat kularikan semua duka pada deraian tawa
tanpa makna
pada himpitan kasih yang membuatku risih
Bah…
tak jua kutemukan cinta itu disini
bagaimanapun aku menyukai tempat ini
(kota kelahiran, 8 April’04)
ROADMAP
Tuhanku,
telah kusublim waktu
dan menyekatnya dalam kesiaan
;tanpa beban
Kekasih,
telah kugunting jemu penantian
dan menciptanya menjadi peta
;pencari jalan pulang
Lirihku telah menjelma senandung
Istighfar
dalam tasbih menjelang fajar
Aku tak tahu,
apakah ia akan menuntunku pada pucuk api-Mu
atau puncak sejuk-Mu
2004
ODE RANAH MANISE
tanyakan pada bening mata
bagaimana bisa ia
mencintai tanah yang sudah
bersimbah
darah
tanyakan pada polos jiwa
bagaimana bisa ia
rindu untuk pulang
padahal pela sudah terkoyak oleh
peluru
dan
pedang
katakan padaku, Azka!
bagaimana caranya agar cinta
dapat tumbuh disana!
(maret’04 / dimuat di HU Pikiran Rakyat, Agustus 2004)
WAJAH CAHAYA
;Nur
wajah cahaya itu membuka pagi ini
bersama bagaskara
; yang terpana
pada senyumnya yang mawar
Ia melintasi padang rinduku
dengan jilbab terkibar menyampaikan
senandung tasbih
Angin sejenak terhenti
; terjebak dalam pesona
Ia adalah cahaya putih
yang menyublimkan hati-hati melati
juga membekukan segulung rindu
lewat tatapannya yang kilat
;menjelma dendam yang terpahat
wajah cahaya itu,
melintasi padang waktuku
dengan senyumnya yang paling mawar
(agustus 2004 / dimuat di Annida, edisi 1-14 Desember 2004)
JALAN PULANG KE BUNDA
Bunda,
kecemasanmu telah menjelma
menjadi labirin mata-mata yang terus berkelana,
dimana-mana
Aku takut Bunda,
sungguh…
tak ada lagi tempatku bersembunyi
selain berlari dari hati
Bunda,
dalam lelahku ini,
pangkuanmu menjadi tempat yang seharusnya nyaman
namun tetap saja asing bagiku.
Bunda, masihkan ada jalanku untuk pulang?
(2004)